Ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya seperti ia menyembunyikan keburukan-keburukan dirinya (Yaqub YahimaHullah, dalam kitab Tazkiyatun Nafs).
Masih ingat dengan sebuah film yang berjudul Kiamat Sudah Dekat?
Salah satu film yang menyajikan usaha seorang pemuda untuk dapat mengambil hati ayah dari gadis yang dicintainya. Diceritakan bahwa ayah si gadis meminta sang pemuda untuk menguasai ilmu Ikhlas, yang entah siapa bisa menjadi gurunya. Karena tak ada seorangpun yang tahu dengan pasti kadar keikhlasan seseorang. Bahkan dalam kitab yang sama, As-Suusiy berkata, " Ikhlas adalah tidak merasa telah berbuat ikhlas.
Dan barangsiapa masih menyaksikan keikhlasan dalam ikhlasnya, maka
keikhlasannya masih membutuhkan keikhlasan lagi".
Sang penilai, dalam kasus film di atas adalah ayah si gadis dengan petunjuk dari Tuhannya telah menyatakan bahwa sang pemuda sudah menguasai ilmu ikhlas yang diminta. Penilaian tentang keihklasannya mengacu pada terlihatnya sikap si pemuda menerima dengan pasrah apapun yang akan terjadi atasnya. Tak ada yang tahu, apakah dia menjadikan Allah Subhanallah wa ta'ala
sebagai satu-satunya tujuan dalam segala bentuk ketaatan atau
mengabaikan pandangan makhluk dengan cara selalu berorientasi hanya
kepada Allah Subhanalah wa ta'ala atau tidak. Wallau A'lam. Hanya Allah tempat meminta petunjuk untuk menjaga diri kita dalam memandang.






